AhLan..

10 Jun 2010

Tanggungjawab kita bagaimana pula?



"Kami Bukan Wira Tetapi Andalah Wira Yang Sebenar"
Ketua Misi Lifeline For Gaza Malaysia

"Saya bagi pihak rakan-rakan juga mengucapkan terima kasih kepada Wisma Putra dan Kedutaan Malaysia di Jordan. Kami tidak sangka dapat keluar awal.
"Hero sebenarnya bukan kami. Wira yang sebenar adalah mereka yang berdoa, bersolat hajat dan berusaha untuk keluarkan kami. Kamulah sebenarnya wira-wira itu," kata ketua biro Palestin Haluan Malaysia itu.
Noorazman dan sebelas lagi sukarelawan Malaysia berada dalam kapal Mavi Marmara yang membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza ketika diserang tentera Israel pada Isnin lepas

sebenarnya tak ada apa lagi yang nak diceritakan dalam blog ini mengenai kepulangan sukarelawan Malaysia ke tanah air. malah telah ada siaran langsung menyambut kepulangan mereka di astro awani dan TV3. tetapi apa yang ingin saya cuba kongsikan bersama ialah rasa rendah diri yang diucapkan oleh ketua misi sukarelawan iaitu ust noorazman apabila beliau dan aktivis lain diangkat dan dijulang-julang oleh masyarakat sebagai wira negara.
Ini yang kita mahu. pejuang islam tak pernah mengangkat atau mengakui dirinya wira. dengan rasa rendah diri serta tawadduk beliau membalas soalan wartawan..'kami bukan wira tp andalah wira sebenar' sejak kapal sukarelawan ini diserang israel, setiap hari saya cuba mendapatkan maklumat dari semasa ke semasa. tak cukup dengan TV, suratkhabar bermacam-macam jenis saya beli untuk sehari. sehinggalah kepulangan group kedua aktivitis malaysia pulang ke tanah air, baru lah saya jarang membeli surat khabar..tengok berita kat tv je. semoga kepulangan sukarelawan ni akan melahirkan lebih ramai sukarelawan dari malaysia yang sanggup ke gaza menyahut cabaran dan memberi bantuan semampu yang mungkin pada saudara kita disana.
melihat kepada kecaman yang dilaungkan oleh seluruh penduduk dan pemimpin dunia, rasa bangga dengan sensitivtii yang yang ditunjukkan oleh seluruh masyarakat dunia, khasnya masyarakat Islam. malah lebih mantap apabila kecaman ini telah disusuli dengan beberapa tindakan daripada pihak berwajib. nah..semangat ini yang kita mahu. alangkah indah sekiranya perkara ini dilakukan 10 tahun dahalu atau 60 tahun dahulu sejak palestin dijajah dan ditindas oleh Israel..kan?


Rachel Corrie
melihat pemilik nama Rachel Corrie ini..tak de lah kita kagum sangat kan..zahiriahnya seperti remaja biasa yang lain diluar sana. tapi siapa menyangka kehebatan semangat dan pengorbanannya ini sehingga menyebabkan namanya dibadikan kepada sebuah kapal besar yang membawa misi kemanusiaan ke Gaza. kat bawah ni saya bawakan serba sedikit perjalanan beliau sehingga menghebuskan nafasnya yang terakhir di bumi palestin

16 Maret 2003, Rachel Corrie, seorang perempuan muda warga negara Amerika Serikat, meninggal dunia dengan cara yang tragis: dilindas buldoser Israel buatan AS. Hari itu, Corrie ada di Kota Rafah, Palestina, bersama teman-temannya dari International Solidarity Movement, menyaksikan penyerbuan tentara Israel ke kota itu. Dengan dalih mencari "teroris", tentara Israel menyerang Rafah dengan amunisi lengkap.
Lahir dari Olympia, AS, Corrie telah menjadi relawan kemanusiaan sejak usia belia—ia meninggal pada usia yang juga amat muda: 23 tahun. Keprihatinannya terhadap perang dan tragedi kemanusiaan mulai menemukan bentuknya tatkala ia tiba di Rusia sebagai relawan International Solidarity Movement. Saat itu, sebagaimana termaktub dalam catatan hariannya, Corrie mulai merasakan Amerika sebagai sesuatu yang asing. "Amerika tak mempesonaku lagi. Ia tak mampu memikatku lagi. Ia pudar dan terlipat di pinggiran pikiranku…." tulis Corrie dalam catatan hariannya.
Dengan pilihan merdeka, Rachel Corrie pergi ke Palestina. Rachel mempelajari isu tak masuk akal Palestina yang berhembus ke telinga dunia dengan kata "konflik" Palestina-Israel. Akhirnya dia dapati kenyataan bahwa Israel menjajah Palestina sejak lebih setengah abad lampau.
"Rachel, untuk pergi ke Palestina, kewajibankah? Tak seorangpun menyalahkanmu untuk mengurungkan niat itu," ujar Mama Rachel. Rachel menjawab pasti, "Barang-barang sudah kukemas. Rasa takut itu manusiawi. Tapi kupikir, melakukannya tak mustahil. Harus kucoba, Mam." Seatraktif apapun bujukan keluarganya, niat Rachel tak tergoyahkan. Tekad telah bulat, "Goodbye Olympia…"
Januari 2003. Rachel berangkat ke Israel untuk transit ke Tepi Barat. Setibanya di tanah para pengungsi itu, dia langsung bergabung bersama insan internasionalis (dari Inggris, Jerman, Itali dll) diInternational Solidarity Movement (ISM); wadah para pegiat kemanusiaan anti penjajahan. Pergerakan ini hanya memiliki dua syarat partisipasi: Pertama, pegiatnya yakin bahwa bangsa Palestina berhak merdeka berdasarkan hukum internasional dan resolusi PBB. Kedua, pegiatnya hanya menggunakan cara tanpa kekerasan untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa Palestina.

16 Maret 2003. Dua bulldoser dan tank-tank Israel melaju kencang di jalanan Hi Salam, Rafah, Jalur Gaza, perbatasan Mesir menuju rumah-rumah penduduk Palestina. Satu buldoser dikendarai operator, dipandu seorang tentara yang berhenti tepat di depan rumah Nasrallah, salah satu keluarga di Rafah. Sudah beberapa hari Rachel tinggal di dalamnya. Bukan sekedar menumpang tidur, tapi Rachel sengaja menghendaki tentara IDF mengurungkan niat membongkar rumah itu karena keberadaannya. Juga, Rachel menegaskan tekadnya untuk bersama warga Palestina memperjuangkan kemerdekaan. Kesan seram ini dipotret Rachel melalui e-mail yang dikirim kepada Mamanya: Dua kamar depan rumah mereka tak dapat digunakan. Dinding-dindingnya hancur ditembus peluru Israel. Seluruh anggota keluarga; tiga anak dan dua pasang suami istri tidur di ruang tengah. Aku tidur di lantai bersama anak perempuannya, Iman dalam satu selimut.
Buldoser Israel tak berhenti. Aktivis-aktivis ISM lain menjerit histeris melambai-melambaikan tangan. Mereka ketakutan. Raungan buldoser menindih semua suara. Melihat D-9R semakin bergairah menyeruduk, Rachel berupaya memanjat gundukan tanah yang dikeruk pisau buldoser agar tak tertelan. Posisi Rachel di atas gundukan itu cukup tinggi, pasti tentara IDF yang mengoperasikan kendaraan baja itu melihatnya. Tapi serdadu itu tetap tancap gas. Rachel terbanting kemudian terseret pisau Bulldozer. D9R terus melaju. Rantai-rantai baja bergemeretak melindas Rachel, kemudian mundur. Tersisa tubuh hancur Sang gadis Olympia.
Teman-teman Rachel bergegas menghampiri. Rachel masih hidup kala itu. Dia sempat berkata, "Sepertinya punggungku remuk.'' Tak lama ambulan Palestina datang. Saat itu dipastikan tiada harapan hidup bagi Rachel. Gadis berambut pirang itu dinyatakan meninggal beberapa saat setelah tiba di rumah sakit lokal.
Sayang, Rachel Corrie berada di pihak yang "salah." Dia mati dilindas buldoser Israel. Karena alasan itulah pemerintahnya (Amerika Serikat) mendiamkan dan menghentikan kasusnya


emm..begitulah kisah yang dilalui remaja ini. dalam usia yang baru berumur 23 tahun, telah terpatri kisahnya dalam sejarah. tapi pada usia seperti dia apa yang sedang kita fikirkan? adakah kita memiliki semangat seperti beliau? sedangkan umat palestin bukanlah terdiri dari bangsanya apatah lagi agamanya..tp palestin adalah saudara seaqidah kita. namun apa yang kita lakukan? Apa tanggungjawab kita pula?hmmmm..saya sendiri belum mampu mencapai kekuatan dan keberanian dari beliau. hanya mampu melihat dan menghantar doa..tp sampai bila kan..?bila kemenangan keatas Islam itu akan terjadi dan bila kehancuran yahudi itu akan kita saksikan?

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...